Adakah Hadits Doa Terhindar dari Virus Corona

Masyarakat dunia gempar dengan fenomena wabah penyakit baru. Namanya virus corona. Virus Corona adalah jenis wabah penyakit yang menyerang pernapasan. Virus ini dikenal dengan inisial 2019-nCoV.

Dikutip dari website LIPI, kata corona pada coronavirus diambil dari bahasa latin yang artinya crown. Dalam bahasa indonesia artinya mahkota.

Disebut Corona karena bentuknya yang mirip mahkota jika dilihat dari mikroskop. Bentuk mahkota ini ditandai dengan adanya 'Protein S'  yang berupa sepatu, sehingga dinamakan Spike Protein, yang terbesar disekeliling permukaan virus 'Protein S' inilah yang berperan penting dalam proses infeksi virus pada manusia.

Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menyebutkan, seseorang yang telah terinveksi virus corona akan mengalami gangguan pernapasan mulai tingkat ringan hingga berat.

Pasien yang telah terkonfirmasi positiv terkena virus Corona, ia mengalami gejala demam, batuk, dan sesak napas. Gejala ini dapat muncul dalam rentan waktu 2 hingga 14 hari setelah korban terkena paparan virus Corona.

Wabah penyekit pernapasan yang mematikan ini pertama kali terditeksi di wuhan, China, Tepatnya pada bulan desember 2019 lalu.namun hingga januari 2020 ini belum juga ditemukan vaksin untuk virus 2019 n-CoV .

Prinsip seorang muslim terhadap merebaknya wabah penyakit 

Merebaknya wabah penyakit ditengah masyarakat adalah bagian dari kehendak Allah 'azza wajalla.

Bisa munculnya wabah penyakit adalah bentuk ujian keimanan dari Allah 'azza wajalla. Sebagaimana kabar dari Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam berikut ini.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda
مَا يُصِيْبَ الْمُسْلِمُ مِنْ نَصْبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حَزَنٍ وَلَا أَذَى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةَ يُشَاكِهَا إِلَّا كَفَرَ اللهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

"Tidaklah seorang muslim ditimpa kelelahan, rasa sakit, kesusahan, kesedihan, gangguan, dan gundah gulana, hingga terkena duri sekalipun, melainkan semua itu menjadi penghapus dari dosa dan kesalahanya. (HR. Al- Bukhari dan muslim)

Dalam hadits lain beliau bersabda

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُصِبْ مِنْهُ

"Barang siapa yang dikehendaki Allah untuk mendapat kebaikan, maka ia akan diuji." 
(HR. Al- Bukhari no 5645 ; HR. Ahmad no 7235).
Namun, bisa jadi pula munculnya wabah penyakit itu adalah wujud hukuman dan azab dunia dan perbuatan maksiat manusia.
وَلَنُذِيْقَنَّهُمْ مِّنَ الْعَذَابِ الْاَدْنٰى دُوْنَ الْعَذَابِ الْاَكْبَرِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ
" Dan pasti kami timpakan kepada mereka sebagian siksa yang dekat ( di dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat ) ;agar mereka kembali ( ke jalan yang benar) ( QS. As - Sajdah:21)


Islam memiliki prinsip yang jelas. Setiap penyakit pasti ada obatnya. Apapun bentuk penyakitnya.

Prinsip ini dikuatkan oleh banyak hadits sebagaimana disebutkan oleh ibnu  Qayim Al- Jauziyah (691- 751H) dalam buku ad Da'wa ad dawa'

Pertama, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu dari Rasulullah 
مَا أَنْزَلَ اللَّهُ دَاءً إِلَّا أَنْزَلَ لَهُ شِفَاءً

Tidaklah Allah 'azza wajalla menurunkan penyakit melainkan Allah 'azza wajalla juga telah menurunkan obat yang menyembuhkanya. (HR.Al-Bukhari No 5674). Kedua, dari jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhu, ia berkata Rasulullah shallahu 'alaihi wasalam bersabda.

لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءٌ، فَإِذَا أُصِيبَ دَوَاءُ الدَّاءِ بَرَأَ بِإِذْنِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ
"Setiap penyakit itu ada obat penyembuhnya. Sehingga obat tersebut telah menyerang penyakit, maka penyakit penyakit tersebut akan hilang dengan izin Allah  azza wajalla "(HR. Muslim no 22.04).
Ketiga dari Usamah bin Syuraik' dari Nabi shallallahu 'alahi wasalam, beliau bersabda,
إِنَّ اللهَ لَمْ يُنْزِلْ دَاءً إِلَّا وَأَنْزَلَ لَهُ شِفَاءً، وَعَلِمَهُ مَنْ عَلِمَهُ وَجَهِلَهُ مَنْ جَهِلَهُ
" Sesungguhnya, tidaklah Allah 'azza wajalla menurunkan sebuah penyakit melainkan Allah 'azza wajalla juga menurunkan obat penyembuhnya. Orang yang mengerti akan mengetahuinya dan orang yang jahil tidak akan mengetahuinya, (HR. Ahmad, 4, 278; HR. Al - Hakim 4,197. Hadits shahih).

Catatan wabah penyakit yang pernah menimpa umat terdahulu

Dalam penelitian medis, wabah penyakit berbentuk virus Corona jenis 2019 - nCoV baru muncul di kota wuhan, china, bulan desember 2019 lalu. namun, dalam catatan sejarah, wabah penyakit yang mirip seperti ini telah ada sejak zaman dahulu yang dikenal dengan istilah Tha'un.

Wabah penyakit Tha'un pernah terjadi pada zaman Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasalam, wabah penyakit ini menimpa penduduk Madain, Tepatnya pada tahun 6 hijriyah.

Berikutnya tahun 18 Hijriyah, wabah penyakit Tha'un juga pernah terjadi pada zaman Umar Bin Khatab radhiyallahu'anhu, wabah yang merebak di negeri syam ini menelan korban hingga 25 ribu jiwa meninggal dunia.

Pada tahun 50 Hijriyah, wabah thaun juga pernah menjangkiti penduduk negeri kufah. Sahabat rasulullah shallallahu alaihi wasalam, mughirah bin syu'bah radhiyalahu 'anhu termasuk salah satu korban dari penyakit ini.

Kemudian pada tahun 69 Hijriyah, pada era kepemimpinan Abdullah bin zubair, penyakit Tha'un kembali merebak, kali ini memakan korban hingga ratusan ribu orang. Pada saat itu, puluhan anak - anak para sahabat banyak yang meninggal.
 
Lalu pada bulan syawal tahun 87 Hijriyah, penyakit Tha'un kembali mewabah di wilayah Bashrah, Syam, dan Kufah. Menyebarnya wabah penyakit Tha'un kali ini juga menimpa banyak tokoh- tokoh penting dalam islam.
 
Selanjutnya pada tahun 131 hijriyah wabah penyakit Tha'un menjamur kembali. Kali ini di wilayah iraq orang yang pertama kali menjumpai penyakit ini adalah Muslim bin Qutaibah (ath- Thawain fi Shadri al- Islam wa al khilafah al-islamiyah, Nashir Bahjat fadhil, 1-2)


Ikhtiar Agar Terhindar dari wabah Penyakit

 Bentuk ikhtiar yang wajib dilakukan oleh setiap orang agar terhindar dari wabah penyakit semacam virus corona dan lainnya adalah dengan beriman kepada Allah azza wajalla.

Mengimani Allah menerima dan melaksanakan seluruh syariat- nya adalah kunci dunia dan akhirat sekaligus. Maka dengan beriman kepada Allah, seseorang telah menghindarkan dirinya dari azab dan siksa dunia. Baik itu berbentuk wabah penyakit atau siksa lainnya.

Setelah itu diikuti dengan ikhtiar jasadi, yakni menjaga fisik dari potensi dan penyebab penyakit sesuai dengan petunjuk ahli medis dan kesehatan.

Pertama,  sering - seringlah  mencuci tangan dengan sabun  dan air selama 20 detik, jika air dan sabun tidak tersedia, gunakan pembersih tangan atau hand sanitizer yang halal dan aman.

Kedua hindari menyentuh mata, hidung, dan mulut dengan tangan yang tidak dicuci.

Ketiga, hindari kontak dengan orang yang sakit
Keempat, tetap dirumah saat sedang sakit
Kelima, Tutupi batuk atau bersin dengan tisu, lalu buang tisu ke tempat sampah.
Keenam, bersihkan dan disinfeksi benda dan permukaan yang sering di sentuh.( CDC)
Ketujuh banyak ber'doa

Saran medis sebagai tindakan preventif seperti diatas (1-6) sebenarnya sudah ada dalam islam.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam selalu menganjurkan untuk menjaga kebersihan. Seluruh pelaksanaan ibadah selalu diawali dengan persoalan kebersihan badan. Bahkan, kebersihan badan (baca:thaharah) menjadi syarat sah ibadah

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :
إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ يُحِبُّ الطَّيِّبَ، نَظِيفٌ يُحِبُّ النَّظَافَةَ، كَرِيمٌ يُحِبُّ الكَرَمَ، جَوَادٌ يُحِبُّ الجُودَ، فَنَظِّفُوا – أُرَاهُ قَالَ – أَفْنِيَتَكُمْ وَلَا تَشَبَّهُوا بِاليَهُودِ
"Sesungguhnya Allah maha baik, dan menyukai kepada yang baik, maha bersih dan menyukai kepada yang bersih, Maha pemurah, dan menyukai kemurahan, dan maha mulia dan menyukai kemulianaan, karena itu  bersihkanlah diri kalian" Aku mengiranya dia berkata ; Halaman kalian, dan janganlah kalian menyerupai orang - orang yahudi." ( HR. Tirmidzi No 2799. Hadits dha 'if)

Doa Terhindar Dari Wabah Penyakit 

Setelah menempuh ikhtiar untuk menghindarkan diri dari berbagai wabah penyakit, doa adalah jalan yang tidak kalah penting. Karena,
اَلدُّعَاءُ مِنْ أَنْفَعِ الْأَدْوِيَةِ

"Doa adalah obat penyembuh yang paling manjur."
Demikian Pernyataan ibnu Qayim al- jauziyah dalam kitabnya Ad - Da'wa ad- dawa (h11).

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ' anhuma, dari Nabi shalallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda 
إِنَّ الدُّعَاءَ يَنْفَعُ مِمَّا نَزَلَ وَمِمَّا لَمْ يَنْزِلْ، فَعَلَيْكُمْ عِبَادَ اللَّهِ بِالدُّعَاءِ
"Doa itu memberikan manfaat atas musibah yang belum terjadi. maka dari itu, wajib bagi kalian, wahai para hamba Allah, untuk berdoa. " HR. At- Tirmizi  No 3548 Hadits hasan"

Ketika wabah penyakit virus Corona menjadi ancaman global, di media sosial mulai bermunculan broadcast tentang doa agar terhindar  dari wabah penyakit.

Di antaranya adalah sebagai berikut ini
تَحَصَّنْتُ بِذِيْ الْعِزَّةِ، وَاعْتَصَمْتُ بِرَبِّ الْمَلَكُوْتِ، وَتَوَكَّلْتُ عَلَى الْحَيِّ الَّذِيْ لَا يَمُوْتُ، اَللَّهُمَّ اصْرِفْ عَنَّا هَذَا الْوَبَاءِ، وَقِنَا شَرَّ الدَّاءِ، وَنَجِّنَا مِنَ الطَّعْنِ وَالطَّاعُوْنِ وَالْبَلَاءِ، بِلُطْفِكَ يَا لَطِيْفُ، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
"Aku berlindung kepada pemilik kemuliaan, aku berlindung kepada rabb pemilik kerajaan, aku bertawakal kepada dzat yang maha hidup yang tidak dapat mati, ya allah, singkirkanlah kami dari wabah, lindungi kami dari keburukan penyakit, selamatkan kami dari fitnah, penyakit Tha' un, dan wabah, dengan kelembutanmu, wahai dzat yang maha lembut, sungguh engkau maha kuasa atas segala sesuatu"

Lantas, apakah boleh menggunakan lafal di atas sebagai doa agar terhindar dari wabah penyakit.

Ketika menjelaskan lafal diatas, Syaikh Muhammad Shalih al- Munajjid memberi beberapa catatan. Ringkasnya, selama suatu kalimat doa itu maknanya baik, berisi pengagungan kepada Allah 'azza wajalla, dan selaras dengan syariah, tidak ada unsur pelanggaran syariat islam pada sisi lafal dan maknanya, maka boleh berdoa dengan lafal tersebut.

Syaratnya, lafal doa tersebut tidak boleh diyakini sebagai lafal yang istimewa yang memiliki keutamaan dan pahala tertentu bila diucapkan.

Kemudian lafal tersebut tidak boleh diucapkan terus menerus sehingga menyerupai ibadah. Dan yang lebih penting, jika ada lafal yang bersumber dari sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, maka lafal ini lebih utama untuk diucapkan.

Ada beberapa doa yang dapat diucapkan untuk menghindarkan diri dari berbagai penyakit dan gangguan.

Pertama, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah mengucapkan doa,
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ البَرَصِ، وَالْجُنُونِ، وَالْجُذَامِ، وَمِنْ سَيِّئِ الْأَسْقَامِ
"Ya Allah aku berlindung kepada-mu dari penyakit belang, penyakit gila, penyakit lepra, dan penyakit - penyaki lain yang mengerikan."
 Doa ini diriwayatkan oleh imam abu dawud (no.1554), ibnu Hibban, (no.1017), Imam Ahmad (no. 13004), Ath- Thayalisi (no.2008), dan imam ath- Thabarani (no.1342) dari anas bin malik radhiyallahu 'anhu.

Kedua, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam juga menganjurkan membaca doa ini :
بِسْمِ اللَّهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الأَرْضِ وَلا فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
"Dengan nama Allah yang tidak ada yang dapat mencelakai bersama nama-nya apapun yang ada di bumi dan dilangit, Dan Dia Maha Mendengar Lagi Melihat."

Hadits ini diriwayatkan oleh imam ibnu majah (no.3869), imam ath- Thabarani (no.317), Imam Ahmad (no.474), Imam at - Tirmizi (no.5088), imam ibnu Hibban (no.852), dan lainnya, dari Utsman bin Affan Radhiyallahu 'anhu.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjanjikan, barang siapa yang mengucapkan doa itu sebanyak tiga kali, maka tidak akan terkena musibah mendadak hingga datang waktu pagi. Dan siapa yang mengucapkan waktu pagi tiga kali, maka tidak akan terkena musibah mendadak hingga tiba waktu sore hari. Wallahu alam. Sumber referensi : dakwah id

No comments:

Powered by Blogger.